Bankir Juga PR

Workshop Digital PR

Kegiatan workshop digital PR Bank Sumut dengan mentor Imogen PR

Jumat pagi, 2 Februari 2018. Puluhan anak-anak muda generasi milineal usia kisaran 25-35 tahun berkumpul dalam satu kelas untuk mengikuti in house training. Mereka berasal dari perusahaan yang sama, namun perwakilan dari beragam unit yang berbeda. Sebagian berasal dari unit yang mengurusi produk dana, sebagian lainnya dari unit yang mengurusi kredit, ada juga unit usaha syariah, dari perwakilan kantor cabang hingga unit yang mengurusi CSR.

Hari itu mereka, para pegawai Bank Sumut, dijadwalkan selama 8 jam penuh mengikuti workshop Digital Public Relations (PR). Di benak mereka, tentu muncul pertanyaan: “Mengapa kami harus mengikuti training ini? Apakah ada relevansinya dengan pekerjaan di unit kami? Tidakkah cukup staf-staf yang bertugas di unit PR (Humas) saja yang perlu memahaminya?”

Mencoba memahami jalan pikiran mereka, saya dari Unit PR selaku fasilitator training mencoba mengawali membuka acara dengan memberikan pemahaman secara sederhana tujuan training sebelum acara berikutnya diserahkan kepada Tim Mentoring Imogen PR, salah satu PR Agancy terkemuka di Jakarta, untuk memyampaikan presentasi materi Digital PR secara detil, komprehensif dan aplikatif.

Saya mengawali dengan sebuah cerita tentang rasa penasaran seorang wartawan terhadap sebuah perusahaan yang nyaris tidak pernah mendapat sorotan negatif, bahkan selalu mendapat pujian dari testimoni konsumennya di media sosial dan baragam media massa. Soal kepuasan terhadap pelayanan yang ramah dan cepat, soal pemberian informasi produk yang jelas dan lengkap, soal menyikapi pertanyaan, keluhan dan komplain konsumen yang responsif hingga tanggapan positif masyarakat terhadap penyaluran CSR perusahaannya. Sang wartawan merasa skeptis, jangan-jangan image positif ini merupakan manipulasi informasi dan kosmetik kata-kata yang dipoles cantik oleh tim humasnya.

Tak cukup dengan verifikasi, sang wartawan lalu melakukan cross check dengan nasabah dan stakeholders lainnya secara acak. Benar saja, tidak satu pun yang memberikan statemen negatif.

Lalu, dalam wawancara khusus dengan CEO perusahan tersebut, sang wartawan bertanya, “Reputasi perusahaan anda begitu baik di mata stakeholders. Di media massa bahkan di media sosial, sulit menemukan komentar-komentar negatif tentang perusahaan anda. Lebih banyak narasumber berita yang memberikan apresiasi positif. Saya yakin, peran Tim PR anda tidak bisa diabaikan kontribusinya untuk pembentukan citra positif perusahaan anda. Pertanyaan saya, untuk membangun reputasi yang sangat baik ini, berapa orang Tim PR yang anda pekerjakan?”

Sang CEO tersenyum kecil penuh arti. “Perkiraan anda berapa? Tujuh orang? Lima? Atau mungkin lebih sedikit dari itu? Tidak. Saya memiliki lebih dari tiga ribu PR.”

“Sebanyak itu???” tanya sang wartawan kaget.

“Ya, karena bagi kami seluruh karyawan adalah PR bagi perusahaan. Memang secara fungsional, ada staf-staf PR yang jumlahnya sangat terbatas. Tapi kami menyadari urusan membangun reputasi perusahaan merupakan tanggung jawab bersama seluruh karyawan dari level top manajemen hingga level karyawan terbawah. Mereka setiap hari berhadapan dengan konsumen dan warga masyarakat di luar sana. Citra perusahaan tentu harus dijaga. Sebab reputasi menjadi taruhan bisnis. Kalau bisnis hancur, siapa yang rugi? Bukan cuma perusahaan, tapi mereka juga. Karena itu dalam menjaga reputasi perusahaan, semua karyawan harus merasa terlibat. Mereka adalah PR bagi kami bukan saja saat berada di kantor, tapi juga di luar kantor. Cukup jelas?”

Sang wartawan tertegun, memanggut-manggut kepala dengan mulut terkatup. Entah mengerti atau masih gagal paham.

Cerita ini saya ungkapkan untuk mencoba membuka wawasan peserta training dalam pemahaman paling mendasar tentang fungsi PR dalam setiap pribadi karyawan. Lantas apa relevansinya mengajarkan skill mengelola digtal PR bagi karyawan dengan urusan menjaga reputasi?

Begini. Dulu, ketika ruang publik hanya didominasi oleh media massa, sulit bagi karyawan untuk ikut berkontribusi membangun citra perusahaan. Bahkan akses mereka untuk bisa ikut memberikan advokasi terhadap pemberitaan negatif sangat tidak memungkinkan disebabkan pakem kerja media massa yang hanya menampung informasi dari narasumber resmi, bahkan tidak ada space bagi karyawan untuk bersuara di media. Karena itu, dalam berurusan dengan media massa, sepenuhnya menjadi peran dan beban Unit PR sepenuhnya, mulai dari menerbitkan press release, menyelenggarakan press conference, menjawab surat pembaca, melakukan klarifikasi sampai menggunakan hak jawab atas pemberitaan yang tidak benar.

Tapi dunia sudah berubah, kawan. Revolusi industri telah melahirkan teknologi digital, dengan kelahiran media sosial sebagai anak emasnya. Dengan keberadaan beragam platform linimasa yang user friendly, setiap perusahaan atau individu bisa memiliki dan mengelola akun media sosial sendiri (owned media). Dan dengan lahirnya teknologi ponsel cerdas, yang harganya semakin terjangkau, pengguna media sosial semakin menjamur dan secara perlahan mulai menggeser public sphare yang selama ini dikuasai oleh media massa. Bahkan dari media sosial pula, bermunculan sejumlah influencer dan key opinion leader (KOL) yang setiap posting informasinya selalu diikuti, memengaruhi dan menginspirasi jutaan follower. Sejumlah perusahaan bahkan telah mengendorse mereka untuk menyebarkan informasi, membantu membangun brand dan reputasi hingga melakukan soft selling. Tapi, lagi-lagi, seperti media massa, pada akhirnya memanfaatkan jasa mereka untuk branding dan promosi juga harus berbayar (paid media).

Lantas mengapa tidak memberdayakan karyawan sendiri? Bukankah hampir setiap karyawan saat ini memiliki akun media sosial, dan tidak sedikit di antaranya memiliki ribuan follower? Bayangkan jika ada tiga ribu karyawan yang memiliki akun medsos dan rata-rata memiliki 1.000 follower, berapa banyak netizen yang terjangkau terpaan informasi? Hitung sendirilah. Yang pasti luar biasa, bahkan jumlah totalnya bisa melebihi jangkauan pembaca media massa. Target sasarannya bahkan lebih jelas dan terukur. Mereka juga bisa dioptimalkan berkontribusi di akun sosial media perusahannya. Lebih luar biasa lagi jika mereka diberdayakan bersama-sama terlibat dalam kampanye brand dan produk, berada di barisan depan sebagai advocate perusahaan di dunia maya dan terlibat membangun engagement dengan konsumen atau stakeholders lainnya.

Semua itu bukan mimpi. Kata kuncinya, diawali dengan memberikan pembekalan kepada mereka bagaimana meningkatkan kemahiran mengelola media sosial secara cerdas, kreatif dan bijak, mampu menetapkan smart goals, memahami karakter setiap platform media sosial, paham dalam social media placement, strategi digital campaign, social media engagement, dan yang tak kalah penting memahami content plan dan optimalisasi konten.

Para mentor dari Imogen PR pun berhasil menghidupkan suasana belajar yang menyenangkan dan gampang diserap. Bankir-bankir muda itu merasa enjoy, dan diskusi-diskusi kelompok penuh canda, tawa dan ceria. Para generasi milineal itu terlihat penuh semangat dan energik, mudah menyerap pelajaran, karena tools yang mereka pelajari sesungguhnya tak jauh dari kebiasaan dan gaya hidup mereka sehari-hari: tiada hari tanpa smartphone.

Semoga ini awal yang baik untuk menindaklanjuti tumbuhnya kesadaran yang mebudaya bahwa setiap karyawan adalah PR di media sosial. ***

2 Comments on “Bankir Juga PR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: