Jokowi, Jalan Rusak dan Dahaga Reportase Interpretatif

04Feb

Jokowi, Jalan Rusak dan Dahaga Reportase Interpretatif

Di sela-sela kunjungan kerjanya ke Medan, Sabtu pekan lalu, Presiden Jokowi sempat mencurahkan rasa kesalnya terhadap kondisi jalan yang buruk di kota ini, yang merupakan kota metropolitan dan kota terbesar di Indonesia di luar Jawa. Presiden pun mengultimatum Pemko Medan untuk segera memperbaiki kondisi ruas-ruas jalan yang rusak sebelum dia mengambil sikap tegas.

Kegeraman orang nomor satu di republik ini menghiasi laman sejumlah portal media digital dan di-share di media sosial hingga sontak viral, bahkan menjadi perbincangan hangat di group-group aplikasi chatting dengan nada sinisme dan opini yang menghakimi. Di lain kesempatan, giliran Pemko Medan merespon melalui media sosial dan portal berita sebagai upaya counter opinion, salah satunya dengan mengklarifikasi bahwa buruknya kondisi jalan bukan tangung jawab Pemko Medan, karena kerusakan jalan disebabkan dampak dari pengerjaan proyek pembangunan saluran air limbah dan sanitasi (Metropolitan Sanitation Management and Health Project/MSMHP) yang berada di bawah tangung jawab langsung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera), dan karena itu pula jalan yang rusak akibat pekerjaan rekanan Kemenpupera merupakan tanggung jawab pemerintah pusat pula. Intinya, Pemko Medan sebagai penguasa wilayah merasa hanya kena getahnya.

Sampai di sini stop dulu. Saya tidak sedang membahas polemik persoalan borok jalan di Kota Medan, melainkan mencoba melihat dari perspektif format pemberitaan di ranah media digital dalam konteks issue-issue kontroversial secara umum.

Berita Cepat Saji

Pola kerja jurnalisme online yang cepat menyajikan informasi memang lebih cenderung menghasilkan pilihan produk jurnalistik hard news (berita peristiwa secara lugas) atau talking news (berita pernyataan/statement) ketimbang ragam jurnalisme lainnya seperti news features, jurnalisme interpretatif dan jurnalisme investigatif. Dan karena alasan tuntutan kecepatan informasi itu pula, jamak ditemukan portal berita online yang tergesa-gesa menerbitkan berita sehingga kerap mengabaikan prinsip verifikasi atau chek and rechek.

Tidak ada yang salah sebenarnya dengan model berita lugas (hard news dan talking news), sebab memang begitulah format jurnalistiknya: langsung to the point, ringkas dan padat, dengan maksud agar kandungan informasinya cepat terinformasikan ke khalayak dalam keterbatasan waktu luang untuk membaca informasi terbaru. Bagi portal berita online, kecepatan informasi terdeliveri ke khalayak merupakan “rukun jurnalistik” yang wajib dilakukan.

Yang menjadi masalah adalah ketika pemberitaan berhenti sebatas fakta permukaan dan membiarkan publik menghakimi objek pemberitaan tanpa dukungan analisis dan referensi yang cukup. Berita lugas sudah pakem dibatasi oleh waktu dan ruang teks sehingga yang kerap terjadi adalah pemberitaan yang miskin informasi dan cenderung sepihak. Jikalaupun menerapkan prinsip cover both side (prinsip keberimbangan berita/netralitas), hard news ataupun talking news alih-alih memberikan pencerahan, yang terjadi justru membenturkan opini dari dua pihak yang saling bertentangan serta cenderung menimbulkan prasangka dan permusuhan.

Kacamata Kuda versus Lensa Drone

Sebagai antitesis terhadap reportase lugas, dunia jurnalisik melahirkan reportase interpretatif, sebuah model pemberitaan bergaya riset dan analisis fakta, yang diharapkan dapat memenuhi dahaga publik terhadap berita yang dapat memberikan pencerahan dan pencerdasan. Pewarta reportase interpretatif lebih memilih menemukan fakta-fakta lain di balik peristiwa, merangkainya menjadi satu kesatuan yang berkorelasi dan bersebab akibat, menganalisanya dengan kekayaan perspektif, dan bermuara pada interpretasi (penafsiran/pemaknaan) yang rasional berdasarkan keabsahan data. Pewarta reportase interpretatif sejatinya adalah wartawan kritis, skeptis, pemikir dan analis.

Sebagai misal, dengan reportase interpretatif, jurnalis berusaha memenuhi keingantahuan publik benarkah buruknya kondisi jalan di Kota Medan sepenuhnya kesalahan Pemko Medan; mengapa perbaikan jalan berlarut-larut atau tak kunjung selesai; apakah karena buruknya tata kelola pemerintahan kota; benarkah institusi lain di luar batas teritorial kewenangan Pemko Medan seperti Kemenpupera dan rekanan pelaksana MSMHP turut bertanggung jawab; bagaimana koordinasi lintas sektoral, perikatan komitmen atau perjanjian, sinergi rehabilitasi jalan antar pihak; bagaimana regulasinya; adakah penyimpangan terjadi, dimanakah benang kusut dan benang merahnya; bagaimana solusi untuk mengurai benang kusut proyek rehabilitasi jalan, dan seterusnya. Kemampuan menyajikan pemberitaan multilinier dan memberikan penafsiran logis ini pula yang membedakan wartawan biasa dengan wartawan analis.

Dalam issue yang lain, misalnya, wartawan biasa dengan berita lugasnya sebatas memberitakan protes pengguna jalan tol di Jakarta terhadap tarif top up (isi ulang) kartu tol e-money (uang elektronik). Sedangkan wartawan analis mencoba mencari tahu dasar perhitungan penerapan biaya top up; mengapa harus dikenakan biaya; berapa besar cost investasi infratsruktur IT untuk menerbitkan kartu e-money; mungkinkah biaya top up digratiskan oleh bank penerbit kartu e-money; bagaimana regulasinya; bagaimana perikatan perjanjian dengan merchant (toko mitra bank) isi ulang kartu e-money; bagaimana risiko produk; hingga persoalan bagaimana prosedur pelayanan pengaduan/komplain konsumen pengguna produknya.

Kedua contoh model pemberitaan itu — berita lugas versus reportase interpretatif — menggunakan “mata lensa” yang berbeda dalam merekam fakta. Wartawan biasa melihat fakta secara horizontal dengan kacamata kuda sehingga rekonstruksi fakta dibangun berdasarkan fakta permukaan karena keterbatasan sudut pandang. Sedangkan wartawan analis mengamati dan menelusuri fakta secara vertikal dan horizontal, dengan cakrawala yang terlihat luas dari setiap sudut pandang (perspektif) sehingga dapat merekonstruksi fakta mendekati real reality, layaknya lensa drone (helicopter view) merekam lanskap secara luas, detail, akurat dan dengan kemampuan menangkap banyak perspektif sehingga mendapat gambaran utuh (big picture).

Perbedaan kedua format berita itu — meminjam istilah sesepuh pers Indonesia Jacob Oetama — merupakan perbandingan antara jurnalisme fakta dengan jurnalisme makna.

Dalam reportase interpretatif, subjektivitas jurnalis memang tak terhindarkan, sebab pemberian makna/menafsirkan fakta melibatkan persepsi berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang dipercaya penulisnya (jurnalis). Tapi, setidaknya reportase dengan pendekatan analisis dan tafsiran logis yang berlandaskan keabsahan data, dukungan dokumen sahih, kredibilitas narasumber, lebih dapat dipertanggungjawabkan kejujuran dan kebenaran informasinya dibanding dengan talking news. Pakar etika media dari Universitas Leuven, Beligia, Profesor De Volder, menyebutnya sebagai objektivitas yang subjektif, pemberian makna/tafsir tanpa prasangka, tanpa kepentingan pribadi dan tidak partisan.

Dan satu hal yang pasti, kebenaran dalam dimensi ilmu sosial itu bersifat relatif, karena mazhab yang berbeda dalam menemukan sumbernya. Dan karena itu pula, bukan tidak mungkin reportase interpretatif yang ditulis oleh dua jurnalis yang berbeda terhadap issue yang sama akan menghasilkan pemaknaan berbeda pula. Dan perbedaan interpretasi itu bukan suatu hal yang perlu dikhawatirkan, sebab publik akan tercerahkan dengan kekayaan interpretasi dari pemberitaan media yang cerdas, dan jika kemudian publik mengambil pilihan kebenaran dari kedua interpretasi yang berbeda itu, keberpihakan publik juga telah melalui proses yang cerdas dalam menyerap informasi.

Selling Point

Sayangnya, di tengah kehausan publik terhadap informasi yang lebih pasti (tidak menyesatkan), model reportase interpretatif ini semakin jarang ditemukan di ruang media. Dalam kasus kondisi jalan di Medan, publik tidak memiliki cukup informasi untuk mendapatkan pencerahan dan pencerdasan agar dapat memahami realitas sesungguhnya dan kemudian dapat terlibat dalam diskusi publik untuk memberikan kontribusi pemikiran yang jernih dan konstruktif ketimbang mengeluh, mengumpat, sinis dan memvonis. Begitu pula dalam banyak issue-issue kontroversi lainnya.

Sudah menjadi hakikat manusia memiliki rasa keingintahuan yang besar. Dalam konteks berita, keingintahuan yang besar itu dapat terjawab dengan reportase interpretatif. Media online dengan kemampuannya menyajikan teks tanpa keterbatasan ruang (unlimited space) selayaknya menjadi media yang tepat bagi tumbuh suburnya reportase interpretatif. Dan itu, merupakan selling point bagi bisnis media dalam jaringan (media daring).

Bagaimana dengan media konvensional seperti suratkabar, majalah dan sejenisnya? Sampai saat ini tak perlu berkecil hati. Ketika sentuhan jari di smartphone masih sulit menemukan portal berita online yang menerbitkan reportase interpretatif, dan suratkabar yang anda kelola dapat mengisi kekosongan itu, nafas dan stamina media anda masih cukup panjang untuk bertahan di tengah gempuran media digital. Mengapa tidak mencoba? ***

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *