Personal Branding Smart Jokowi

04Feb

Personal Branding Smart Jokowi

Ini cuma pandangan pribadi. Jujur, persepsi saya tentang Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat ini berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan lantaran Kahiyang Ayu diberi marga Siregar. Tidak. Kerena saya tidak bermarga. Atau karena saya diundang di resepsi ngunduh mantu? Juga tidak.

Saya tidak mendapat undangan (bahkan kalaupun diundang, saya tidak akan pamer kartu undangan untuk saya di media sosial). Bukan pula karena saya pengurus salah satu partai politik pendukung Jokowi. Sungguh, saya bukan politikus. Bahkan saya bukan simpatisan Jokowi pada Pilpres 2014 lalu. Rasa kagum dan simpati yang telat muncul setelah lebih tiga tahun masa kepemimpinannya di negeri ini semata-mata karena saya mencermati cukup lama personal branding Jokowi yang — sekali lagi ini subjektifitas pribadi — terasa natural dan dengan pencitraan yang tidak dipaksakan. Apa adanya, selaras dengan karakter, original behavior dan tidak berubahnya kebiasannya sehari-hari yang manusiawi sebelum dan sesudah menjadi orang nomor satu di republik ini, bahkan di tengah keprotokolan yang saklek dan pengawalan ketat Paspampres.

Dan satu hal yang harus juga saya koreksi persepsi tentang Jokowi adalah perilaku dan kebersahajaan gaya hidup anggota keluarganya (istri dan anak-anak). Saya sampai harus melakukan pencarian di search engine untuk bisa meyakinkan saya bahwa istri dan anak-anaknya masih bersih dari isu permainan oligarki kekuasaan, monopoli sumberdaya ekonomi, konglomerasi bisnis, atau skandal korupsi dan moral. Dan satu uniqly dari putra-putri The Presiden ini, mereka cenderung memiliki perilaku tidak ingin diistimewakan (semoga riset sederhana yang saya lakukan tidak keliru).

Reputasi anggota keluarga yang berkarakter dan dan dapat menjaga nama baik Sang Presiden, tentunya merupakan bonus brand equity bagi Jokowi. Mungkin anda tidak sependapat dengan saya, karena boleh jadi saya salah menginterpretasi Jokowi dan keluarganya. Tapi satu hal yang pasti, saya telah menghapus persepsi lama, lalu meyakini persepsi baru saya tentang Jokowi. Dan sebagai praktisi PR, tentu saja, saya menjadikannya pembelajaran berharga dalam praktik brand activation dan public relations.

Entahlah di kemudian hari. Jika faktanya ke depan berbeda, tentu saya bertanggung jawab untuk mengoreksi ulang persepsi baru ini. Sementara ini, saya ucapkan selamat untuk para “invisible hand” di balik panggung politik Jokowi, terkhusus Tim PR, manager brand dan tim marketing politiknya. Salam #smartPR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *