PR Zaman Now

04Feb

PR Zaman Now

 

Ingat sosok Om Jin yang selalu tampil lucu dan menggemaskan dalam video iklan rokok Djarum 76? Seandainya Om Jin yang mengenakan blangkon dengan busana khas Jawa itu tiba-tiba muncul di hadapan anda seraya berkata, “Kuberi engkau satu permintaan, monggo”, nah anda mau minta apa? So pasti sesuatu yang istimewa, kan? Kalau saya yang diminta Om Jin saat ini, permintaan saya adalah bisa 30 tahun lebih muda dari usia sekarang.

Lho, kok minta kembali ke usia muda?Hayooo, pengin punya pacar atau istri lebih cantik dan bohay ya? Nggak lah! Ngeres aja sih pikiran lo. Jujur, dengan usia kids jaman now, saya ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bisa menjadi praktisi PR muda yang skillful mengggunakan beragam platform media sosial dan aplikasi digital; mahir menulis social media storytelling; menjadi video maker yang hebat; animator yang keren; menjadi blogger yang produktif dan vlogger yang kreatif; dan tentunya jagoan dalam menyiasati social media campaign.

What’s that for? Tentunya, agar saya bisa menjadi smart PR dengan kemampuan menghasilkan social media content yang cetar membahana, dengan hasil yang — seperti kata Nita Kartikasari dalam bukunya bertajuk Viral — powerful, impactful dan respectful untuk memenangkan hati konsumen atau merebut hati stakeholders. Wah, supaya bisa menjadi endorser laris manis, ya? Nggak gitu kale. Kalau pun menjadi the best endorser atau the best online influencer, itu cuma bonus. Buat saya, yang paling penting bagaimana bisa menjadi prakisi PR yang profesional dan diandalkan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Cieee…Tapi betenya nih, waktu saya curhat soal angan-angan absurd saya itu ke salah seorang anak gadis saya yang remaja ting-ting, eh dia malah bilang, “Iss Papa inilah, PR jaman now banget!”

Anak-anak saya — seorang di antaranya usia termuda dari generasi milineal (generasi Y) dan tiga orang lainnya tergolong generasi Z — pastinya akrab dengan platform linimasa (media sosial) dan tools aplikasi ketimbang ayahnya yang terlahir dari generasi X. Tapi mereka terkaget-kaget ketika saya menunjukkan beberapa hasil produksi video stori dan video presentasi yang saya create dari aplikasi VideoScribe, Powtoon Animated Video dan Video Anamorphic Powerpoint. Soalnya, mereka baru tahu adanya ketiga aplikasi digital yang easy to use dan bersifat instan itu. Jangankan mahir menggunakannya, mendengar aplikasinya saja mereka baru tahu setelah saya perlihatkan. Selama ini meraka hanya mengenal aplikasi video maker seperti Windows Movie Maker, Ulead, Sony Vegas, atau Adobe Premiere.

 Saya mahfum, mungkin saja karena mereka selama ini lebih sering menggunakan media sosial hanya untuk chating atau berinteraksi. Tapi saya sulit memaklumi jika yang tidak update perkembangan aplikasi digital penunjang praktik PR justru mahasiswa-mahasiswa calon praktisi PR zaman now atau praktisi-praktisi PR muda di era digital ini. Kendati begitu, tidak adil juga jika menempatkan mereka sepenuhnya sebagai “tersangka” atas kegagalan beradaptasi dengan perkembangan aplikasi digital. Di kampus, dosen atau badan usaha universitas turut bertanggung jawab untuk itu. Bagaimana dengan laboratorium industri keratif multimedianya? Di institusi atau perusahaan, top leader atau manager tidak bisa cuci tangan atas kelalaian transformasi skill dan kompetensi staf PR-nya. Bagi sebuah perusahaan berskala besar, luas dan kompleks, keberadaan organisasi PR saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan ketersediaan digital creative room. Mungkin, untuk cari cara praktisnya, perusahaan memanfaatkan jasa PR agency atau jasa multimedia. Tapi, untuk aktivasi brand dan frekuensi pekerjaan PR yang tinggi, terlebih jika harus sekaligus men-support digital marketing, memiliki tim PR kreatif dengan kecukupan fasilitas produksi mulimedia, dalam hitungan ekonomi jusru lebih efisien. Bauran kompetensi (mind), skill dan fasilitas multimedia, justru sangat diperlukan untuk memperkuat effort dalam menumbuhkan social media engagement, membangun reputasi, menunjang pemasaran, dan mendukung pertumbuhan bisnis.

Setali tiga uang dengan kebanyakan praktisi PR muda yang telat beradaptasi dengan updating teknologi aplikasi digital dan platform media yang cepat berubah atau berkembang dinamis, sering ditemukan mahasiswa-mahasiswa prodi public relations yang magang di perusahaan belum memiliki basic skillPR yang mumpuni. Bahkan skill utama PR, yakni PR writing, masih belum cukup terasah. Saya yakin, disamping kurikulum ilmu komunikasi, ilmu terapan/praktis PR telah diajarkan dibangku kuliah. Yang saya tidak yakin, apakah pengajarannya yang tidak intensif dan masif atau si mahasiswa yang malas membiasakan diri

nya untuk terlatih. Kedua-duanya bisa jadi ya. Tapi saya juga yakin, tidak sedikit mahasiswa PR yang serius meningkatkan kompetensi dan skill. Tidak bergatung penuh pada diktat kuliah, tapi belajar secara otodidak untuk mengaktualisasi dirinya. Itu juga yang saya lakukan dulu, 30 tahun lalu, dan tak berhenti mengasah kompetensi dan skill hingga saat ini.

Ah, seandainya, saya bisa kembali muda. Sayangnya, Om Jin tak pernah mendadak muncul di hadapan saya. ***

 

 

One thought on “PR Zaman Now

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *